Kota Gede Yogyakarta

Kota gede terletak disalah satu bagian wilayah kota Yogyakarta, kota ini menyimpan banyak catatn panjang sejarah dari mulai kerjaan islam mataram hingga pecahnya dua kerajaan yakni Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta yang dahulunya tergabung dalam satu bagian. Nama Kota Gede berasal dari sebuah nama yang berarti kota besar. Kota ini memang dahulunya merupakan Ibukota Kerajaan Mataram Islam, hingga akhirnya waktupun berubah dan ikut merubah tatanan kota Gede.

Satu yang tidak boleh dilupakan dari Kota Gede ini adalah keberadaan sentra kerajinan perak berkualitas tinggi. Kota ini berada di  daerah Yogyakarta dan menjadi sebuah tujuan wisata pilihan wisatawan yang akan berkunjung ke Yogyakarta. Kerajinan perak dari Kotagede terkenal dengan kualitas dan desainnya yang memiliki nilai dan standar yang tinggi, semua dikerjakan secara teliti dan penuh keseriusan sehingga hasil dari produk kerajinan perak Kota Gede lebih berkualitas dibandingkan dengan kerajinan perak dari negara China dan Thailand.

Sentra kerajinan perak berada di sepanjang jalan Kemasan, di sepanjang jalan ini berbagai bengkel dan toko-toko yang menjual kerajinan perak berdiri berjajar menawarkan perak dengan kualitas terbaik. Toko juga ada yang memiliki pelatran yang cukup luas dengan gaya bangunan yang tradisional, hal ini wajar terjadi karena Kota Gede merupakan sebuah kota bekas peninggalan ibukota mataram dahulu sehingga peninggalan sejarah serta sisa-sisa kebesaran kerajaan jaman dahulu masih terlihat di daerah ini seperti reruntuhan benteng, Gapura Hastarengga, Masjid Agung Kotagede, Sendang Saliran, kelir dan Sela Gilang yang merupakan Singgasana Panembahan Senapati.

Bangunan lain yang merupakan peninggalan kerajaan Mataram adalah adanya Kompleks Makam Pendiri Kerajaan. Letak dari Kompleks Makam ini ada di sebelah selatan dari Pasar  Kotagede dan berjarak sekitar 100 meter, komplek ini dijaga oleh abdi dalem yang menjaga selama 24 jam. Komplek makam hanya dibuka pada hari Minggu, Senin, Kamis, dan Jumat sengan jam buka dari jam 08.00  sampai 16.00, diantara tokoh kerajaan yang disemayamkan disini adalah Sultan Hadiwiijaya, Ki Gede Pemanahan, Panembahan Senopati. Untuk menghormati tokoh kerajaan jaman dahulu tersebut maka pengunjung tidak diperbolehkan untuk memotret dan membawa kamera serta perhiasan emas.

Saat ini penjualan produk kerajinan perak dari Kotagede mengalami penurunan, pengrajin di Kotagede selama ini hanya mengandalkan pengunjung yang datang sehingga penjualan pun menurun. Kendala utama adalah pemasaran dan promosi yang gencar yang tidak dilakukan seperti halnya yang terjadi oleh pengrajin luar negeri. Pemerontah diharapkan bisa lebih memberikan perhatian seperti halnya perhatian pemerintah negara lain kepada pengrajin sehingga kerajinan yang merupakan warisan bangsa bernilai tinggi ini bisa lestari.

Untuk menuju kota gede kita bisa menggunakan alternatif transfortasi yang paling mudah adalah menggunakan bus TransYogya yang akan mengantarkan Anda ke Kota Gede. Untuk tiket karena Kota Gede merupakan sebuah sentra yang terbuka jadi pengunjung tidak dikenakan tiket.

Sigit

Hanya seorang blogger yang suka menulis tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi

Sigit

Hanya seorang blogger yang suka menulis tentang tempat-tempat menarik untuk dikunjungi